Uncategorized

Uncategorized

Asosiasi QAHITENA Sukses Gelar Silaturahmi dan Kolaborasi, Dihadiri 50 Peserta dari Berbagai Daerah

19 September 2026 — Asosiasi Qaiya Hijau Tekno Nusantara (Asosiasi QAHITENA) berhasil menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi, Pengenalan Profil, dan Penguatan Jejaring Asosiasi QAHITENA secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, teknologi tepat guna, pertanian, peternakan, maupun pengembangan potensi ekonomi masyarakat. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Selain mengikuti paparan dari kedua narasumber, peserta juga aktif berbagi pengalaman, menyampaikan praktik yang telah dilakukan di daerah masing-masing, serta mengajukan berbagai pertanyaan dan gagasan kepada para narasumber. Interaksi tersebut menjadikan kegiatan tidak hanya sebagai forum penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang bertukar pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik antar peserta. Memperkenalkan QAHITENA dan Membangun Jejaring Kegiatan diawali dengan Silaturahmi dan Paparan Pengenalan Profil Asosiasi QAHITENA. Pada sesi ini disampaikan perjalanan, visi, misi, bidang kegiatan, dan skema Kerjasama  pentahelix. Di ajang silaturahmi juga dijelaskan arah pengembangan QAHITENA ke depan.  Saat ini  Qahitena sudah memiliki Langkah nyata bermitra dengan para pihak antara lain dengan Kemendikdasmen – Direktorat Kursus dan Pelatihan  melalui pembentukan Lembaga Sertifikasi Kompetensi bidang Pengelolaan Sampah, Kemenaker melalui pelatihan vokasi dan profesi, Kemendes – program paska P3PD (exit strategy Smart Village), CSWM UI dengan Merdeka Smpah, KLH dengan komunitas pelestarian lingkungan hidup, GRADASI melalui literasi digital dll. QAHITENA diperkenalkan sebagai wadah yang berupaya mempertemukan berbagai pihak untuk bersama-sama bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, pertanian dan peternakan, teknologi tepat guna, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan.   QAHITENA tidak ingin berhenti sebagai ruang komunikasi, tetapi ingin membangun jejaring yang memungkinkan para anggotanya untuk belajar, berbagi, berkolaborasi, mengembangkan inovasi, serta melahirkan kegiatan nyata di daerah. “Sampah, Teknologi & Ekonomi: Dari Masalah Menjadi Peluang” Sesi berikutnya menghadirkan Bapak M. Syamsul Bakri, S.Kom., dengan tema: “Sampah, Teknologi & Ekonomi: Dari Masalah Menjadi Peluang” Sebagai praktisi yang memiliki keahlian dalam integrasi Teknologi Tepat Guna, TI dan digitalisasi untuk solusi lingkungan, beliau memberikan perspektif mengenai bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Materi juga membuka wawasan peserta mengenai peluang menghubungkan pengelolaan sampah dengan inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan aktivitas ekonomi. “Program Merdeka Sampah Kolaborasi dengan PP Muhammadiyah” Sesi kedua menghadirkan Dr. Muhammad Khoirul Anwar, Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta, praktisi, sekaligus Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PDM. Beliau menyampaikan materi: “Program Merdeka Sampah Kolaborasi dengan PP Muhammadiyah” Paparan memberikan gambaran mengenai pentingnya pendekatan kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat dalam membangun gerakan pengelolaan sampah. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta menunjukkan bahwa persoalan sampah memiliki tantangan yang beragam di setiap daerah. Hal tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun jejaring agar pengalaman dan solusi dari satu daerah dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lainnya. Peserta Aktif Berbagi Pengalaman Salah satu hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah tingginya partisipasi dan antusiasme peserta.  Diskusi berlangsung interaktif, karena peserta juga di beri ruang untuk   membagikan pengalaman nyata yang telah mereka lakukan, mulai dari pengelolaan sampah organik, pemberdayaan masyarakat, teknologi tepat guna, kegiatan komunitas, hingga upaya membangun kerja sama dengan berbagai pihak di daerah.. Hal ini menjadi modal penting bagi QAHITENA untuk mengidentifikasi potensi, pengalaman, kebutuhan, dan peluang kolaborasi yang dimiliki para peserta. Dengan demikian, kegiatan silaturahmi ini diharapkan tidak berhenti setelah Zoom selesai, tetapi dapat dilanjutkan melalui komunikasi dan kegiatan nyata di masing-masing daerah. Pendataan Calon Pengurus DPD dan DPC Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan rencana penguatan organisasi melalui pembentukan DPD dan DPC Asosiasi QAHITENA. Peserta diarahkan untuk mengikuti proses pendataan dan pemetaan calon pengurus DPD/DPC, sebagai bagian dari upaya mengetahui potensi dan kesiapan para anggota yang ingin berkontribusi dalam pengembangan QAHITENA di daerah. QAHITENA berharap proses tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menemukan para penggerak daerah yang memiliki semangat dan komitmen untuk mengembangkan program sesuai potensi serta kebutuhan wilayah masing-masing. Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi Nyata Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta ini menjadi momentum penting bagi Asosiasi QAHITENA dalam memperluas jejaring dan membuka ruang kolaborasi. Ke depan, QAHITENA akan melanjutkan komunikasi dengan para peserta dan anggota untuk memetakan potensi daerah, memperkuat jejaring, serta mempersiapkan pembentukan DPD dan DPC QAHITENA. QAHITENA: Dari Silaturahmi, Menjadi Kolaborasi. Dari Kolaborasi, Menjadi Aksi. Asosiasi QAHITENA berkomitmen untuk terus membuka ruang bagi masyarakat, komunitas, lembaga, akademisi, dunia usaha, pemerintah, praktisi, dan berbagai pihak lainnya untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih baik sekaligus meningkatkan keberdayaan masyarakat.

Uncategorized

WEBINAR SILATURAHMI & KOLABORASI ASOSIASI QAHITENA

Bapak/Ibu Sahabat QAHITENA yang kami hormati, Kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir dalam kegiatan Silaturahmi, Pengenalan Profil, dan Penguatan Jejaring Asosiasi Qaiya Hijau Tekno Nusantara (Asosiasi QAHITENA). Sabtu, 19 September 2026 13.00 WIB s.d. selesai Media: Zoom Meeting SUSUNAN ACARA⏰ 13.00–13.15 WIB1. Silaturahmi & Paparan Pengenalan QAHITENA⏰ 13.15–14.00 WIB2. Seminar / Best Practices: “Sampah, Teknologi & Ekonomi: Dari Masalah Menjadi Peluang”, Bersama  Bpk. M. Syamsul Bakri. S. Kom, Spesialis Integrasi Teknologi Tepat Guna, TI & Digitalisasi untuk Solusi Lingkungan  ⏰ 14.00 – 14.45 WIB3. Paparan “Program Merdeka Sampah Kolaborasi dengan PP Muhammadiyah”, Bersama Dosen  Prodi. Administasi Publik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Muhammad Khoirul Anwar, Praktisi dan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PDM ⏰ *14.45 – 15.00 WIB4. Pendataan Pengurus DPD/DPC⏰ 15.00 WIB s.d. selesai5. Diskusi & Tindak Lanjut  💻 LINK ZOOM:👉 https://us06web.zoom.us/j/83811740125?pwd=EhrL7CjY9cgaRXn2FzitoohZjmFN2t.1ID Rapat: 838 1174 0125Kode Sandi: qahitena📝 PENDAFTARAN PENGURUS DPD & DPC ASOSIASI QAHITENA:👉https://forms.gle/eD2SbUGP3SaPQVEx5 Kami mengajak Bapak/Ibu untuk bersama-sama memperkuat jejaring, berbagi pengalaman, mengembangkan inovasi, dan membangun kolaborasi nyata untuk lingkungan dan masyarakat.🌱 Asosiasi QAHITENAMenghubungkan Potensi, Menggerakkan Kolaborasi, Mewujudkan Solusi.Salam kolaborasi dan salam hijau

Uncategorized

Jadi Mitra UI dan PDM Kota Depok, Asosiasi Qaiya Hijau Tekno Nusantara dari Pekalongan Siap Dorong Merdeka Sampah Nasional melalui Jaringan Muhammadiyah

Kiprah Asosiasi Qaiya Hijau Tekno Nusantara atau disingkat Asosiasi Qahitena asal Pekalongan mulai diarahkan ke level nasional melalui isu pengelolaan sampah. Asosiasi yang bergerak di bidang pelatihan, teknologi tepat guna, kelestarian lingkungan, serta pemanfaatan sampah tersebut ikut membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan program Merdeka Sampah yang diinisiasi Center for Sustainability and Waste Management (CSWM) Universitas Indonesia (UI) bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Depok. Dalam dokumen konsep program, Merdeka Sampah dirancang sebagai inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang terpadu, berkelanjutan, dan edukatif. Kota Depok menjadi titik awal atau pilot project, sebelum modelnya diperluas ke jaringan Muhammadiyah di daerah lain dan selanjutnya dikembangkan sebagai praktik pengelolaan sampah pada skala nasional. Ketua Asosiasi Qahitena, Rina Arsiyanti, mengatakan pihaknya diajak berkolaborasi karena bidang kegiatan Asosiasi Qahitena memiliki keterkaitan dengan isu lingkungan, pelatihan, teknologi tepat guna, dan persampahan. “Program Merdeka Sampah itu program yang digagas oleh CSWM UI dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Depok. Dalam pertemuan tersebut, turut hadir M. Khoirul Anwar sebagai Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PDM Kota Depok dan Dawam Abdul Hanif sebagai Pengawas Asosiasi Qahitena. Kami diundang ke Jakarta, ke Depok, ke kampus UI untuk rapat di ruang rapat Lab GPTech, Gedung MRC Lantai 4, Fakultas Teknik UI, Depok,” ujarnya. Menurut Rina, pertemuan tersebut merupakan Rapat Koordinasi Inisiatif Konsorsium Waste Management, sebagai bagian lanjutan dari pembahasan pengembangan program Merdeka Sampah. Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari pembahasan pembentukan konsorsium pengelolaan sampah. Gagasan ini sejalan dengan desain Merdeka Sampah yang sejak awal disiapkan agar model pengelolaan sampah dapat direplikasi melalui jaringan Muhammadiyah setelah dikembangkan di Kota Depok. Dokumen program menyebut arah pengembangannya mencakup penguatan dan skalasi lokal, replikasi pada jaringan Muhammadiyah di wilayah lain, hingga potensi pengembangan nasional. “Tujuannya kita membentuk konsorsium tentang waste management, di mana nanti kegiatannya akan diarahkan ke seluruh nasional, ke seluruh provinsi, kabupaten/kota, dan pastinya menggandeng akademisi, dunia usaha maupun industri, dan juga pemerintahan,” jelasnya. Menurut Rina, meski Asosiasi Qahitena berasal dari Pekalongan, pergerakan organisasi tersebut tidak terbatas di daerah asalnya. “Ya, kita asalnya dari Pekalongan, tapi pergerakannya nasional,” katanya. Salah satu agenda yang didorong Asosiasi Qahitena adalah penguatan kompetensi sumber daya manusia di bidang persampahan. Rina menyebut pihaknya mengusung rencana pembentukan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Pengelolaan Sampah (LSK PS) yang nantinya diarahkan memiliki cakupan nasional. Rencana tersebut merupakan bagian dari gagasan Asosiasi Qahitena; sementara dokumen program CSWM UI dan Muhammadiyah yang menjadi dasar pengembangan Merdeka Sampah menekankan aspek capacity building, penguatan kompetensi, serta pembangunan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan. LSK tersebut diharapkan dapat menjadi lembaga yang menaungi proses sertifikasi kompetensi bagi pihak-pihak yang bergerak di bidang pengelolaan dan pemanfaatan sampah. Dalam desain Merdeka Sampah, penguatan kapasitas sumber daya manusia memang ditempatkan sebagai salah satu intervensi penting karena operasional pusat pengelolaan sampah membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas dan kompetensi. “Pergerakan kita itu nantinya lebih banyak ke tentang kepelatihan. Karena tadi kita mengusung pembentukan Lembaga Sertifikasi Kompetensi, di mana nanti seluruh Indonesia akan ada TUK, Tempat Uji Kompetensi, tentang pengelolaan sampah,” kata Rina. Bangun Jejaring TUK dan Perkuat Kompetensi SDM Dalam pelaksanaannya, LSK nantinya tidak bekerja sendiri. Asosiasi Qahitena akan membangun jejaring Tempat Uji Kompetensi (TUK) di berbagai wilayah Indonesia. TUK tersebut akan menjadi mitra dalam pelaksanaan uji kompetensi. Namun, setiap calon TUK harus memenuhi kriteria dan prosedur operasional yang telah ditetapkan. “Yang menjadi TUK itu berarti mitra-mitra kami nanti. Bukan kami langsung terjun sendiri ke semua tempat, tetapi ada kepanjangan tangan kami yaitu TUK,” jelasnya. Dengan jaringan tersebut, proses peningkatan kompetensi dan sertifikasi di bidang persampahan diharapkan dapat menjangkau masyarakat di berbagai daerah tanpa harus terpusat pada satu lokasi. Gagasan ini melengkapi pendekatan capacity building dalam Merdeka Sampah, yang diarahkan untuk membangun sumber daya manusia profesional sekaligus mendukung keberadaan eco-hub sebagai pusat pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat. Sampah Didorong Jadi Peluang Ekonomi Bagi Asosiasi Qahitena, penguatan kompetensi tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah. Lebih jauh, masyarakat juga didorong untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Pelatihan nantinya dapat mencakup pemilahan, pemberdayaan, hingga pengembangan kewirausahaan di bidang persampahan. “Kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah yang ternyata bisa jadi emas, bisa menjadi keberkahan karena bisa menghasilkan uang juga dari situ,” tuturnya. Gagasan tersebut sejalan dengan desain Merdeka Sampah yang menempatkan pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan sebagai bagian dari tujuan program. Program ini juga menggunakan pendekatan multipihak atau pentahelix, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga menyangkut dimensi sosial, kelembagaan, edukasi, dan keberlanjutan. Pekalongan Jadi Bagian dari Gerakan Nasional Meski cakupan pengembangannya diarahkan secara nasional, Asosiasi Qahitena tetap melihat Pekalongan sebagai salah satu daerah potensial untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Sebagai organisasi yang berasal dari Pekalongan, pihaknya ingin ikut berkontribusi terhadap persoalan persampahan di daerah asalnya. Terlebih, Kota Pekalongan pernah menghadapi persoalan serius terkait sampah. Rina mengatakan pihaknya terbuka untuk bermitra dengan pemerintah daerah, terutama dalam penerapan teknologi tepat guna serta pendidikan dan pelatihan pengelolaan sampah. “Targetnya bermitra dengan pemerintah. Rencana berikutnya akan berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan beberapa kementerian terkait untuk mulai menerapkan teknologi tepat guna yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Yang kedua, mulai mengenalkan bahwa sampah pun perlu ada pelatihannya,” ujarnya. Menurutnya, pelatihan pengelolaan sampah dapat menghasilkan sejumlah dampak, mulai dari kemampuan memilah sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga munculnya peluang kewirausahaan. Model Merdeka Sampah sendiri dirancang fleksibel dan dapat diterapkan pada berbagai sektor, antara lain rumah sakit, panti asuhan, institusi pendidikan, masjid, serta sektor lainnya sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan model ini dinilai memiliki peluang untuk direplikasi lebih luas. Perkuat Kiprah dari Pekalongan Kemitraan dan ruang kolaborasi dengan CSWM UI juga menjadi langkah penting bagi Asosiasi Qahitena untuk memperluas kiprahnya. Selama ini, Asosiasi Qahitena tidak hanya bergerak di bidang lingkungan, tetapi juga memiliki aktivitas dalam pengembangan desa cerdas atau smart village yang berkolaborasi dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Salah satu pilar desa cerdas tersebut adalah smart environment atau lingkungan cerdas yang mencakup persoalan pengelolaan sampah. Rina menyebut kemitraan dengan UI sekaligus memperkuat posisi Asosiasi Qahitena sebagai organisasi asal Pekalongan yang

Uncategorized

Sosialisasi Pelatihan Pengelolaan Sampah di Dinas Pendidikan Kabupaten Batang , peserta anggota FP-PLKP Kab. BATANG

Batang, 12 Agustus 2026 — Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam menjaga lingkungan, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Pelatihan Pengelolaan Sampah di Dinas Pendidikan Kabupaten Batang pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Batang (Sekdin), Kepala Bidang Pendidikan Nonformal (Kabid PNF) Kabupaten Batang, serta para peserta yang merupakan anggota Forum Penyelenggara Pendidikan dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (FP-PLKP) Kabupaten Batang. Sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan berbagai upaya pengelolaan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana, efektif, dan memiliki nilai manfaat. Sampah tidak hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi juga dapat diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai guna maupun bernilai ekonomi. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya, pengurangan sampah, pemanfaatan sampah organik dan anorganik, serta penerapan teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah. Melalui pelatihan yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat dapat memiliki keterampilan praktis sekaligus mampu menciptakan peluang usaha berbasis lingkungan. Kehadiran jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Batang dan anggota FP-PLKP menunjukkan adanya dukungan terhadap pengembangan program pendidikan nonformal yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sinergi antara Dinas Pendidikan, lembaga kursus dan pelatihan, serta masyarakat dalam mengembangkan program pelatihan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan kolaborasi tersebut, pengelolaan sampah diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, produktif, dan memiliki nilai ekonomi. Melalui edukasi, keterampilan, dan kolaborasi, mari bersama-sama mengubah sampah menjadi berkah serta membangun budaya peduli lingkungan mulai dari lingkungan sekitar kita.

Uncategorized

Dukungan Terhadap Program Merdeka Sampah, Perkumpulan Qaiya Hijau Tekno Nusantara Hadiri Rapat Koordinasi Konsorsium Waste Management CSWM UI

DEPOK, 10 Agustus 2026 – Perkumpulan Qaiya Hijau Tekno Nusantara menghadiri Rapat Koordinasi Inisiatif Konsorsium Waste Management yang diselenggarakan oleh Center for Sustainability and Waste Management Universitas Indonesia (CSWM UI) pada Senin, 10 Agustus 2026. Pertemuan ini berlangsung mulai pukul 10.00 WIB bertempat di Lab GPTech, Gedung MRC Lantai 4, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok. Rapat koordinasi ini merupakan langkah strategis dalam rangka melanjutkan pembahasan dan penguatan kolaborasi serta keberlanjutan Program Merdeka Sampah. Dalam forum ini, para pemangku kepentingan (stakeholders) berdiskusi intensif mengenai langkah-langkah konkret dalam pengembangan inisiatif konsorsium waste management. Pembahasan berfokus pada integrasi teknologi ramah lingkungan, pengelolaan limbah yang efisien, serta penguatan sinergi antara akademisi, industri, dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran Perkumpulan Qaiya Hijau Tekno Nusantara dalam rapat koordinasi ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong inovasi teknologi hijau dan pengolahan sampah yang berkelanjutan. Melalui pembentukan konsorsium ini, diharapkan tercipta solusi terpadu dan berdampak luas bagi efektivitas pengelolaan sampah dan kelestarian lingkungan di Indonesia. Kegiatan bejalan lancar, dan dihadiri oleh : Dalam diskusi tersebut membahas tindak lanjut dan Progres Merdeka Sampah dalam rangka pengendalian Sampah secara Nasional.

Uncategorized

QAIYA HIJAU Tekno Nusantara Edukasi Pengelolaan Sampah di TK Mahad Kota Pekalongan, Diolah Menjadi Pupuk Organik Cair

kota Pekalongan – QAIYA HIJAU Tekno Nusantaran kembali melaksanakan kegiatan edukasi dan praktik pengelolaan sampah bersama peserta didik dan pendidik TK Mahad Kota Pekalongan. Kegiatan ini mengangkat tema pemanfaatan sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair (POC) sebagai salah satu upaya mengenalkan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Kegiatan berlangsung dalam suasana edukatif dan menyenangkan. Para peserta diperkenalkan pada pentingnya memilah sampah, khususnya membedakan sampah organik dan anorganik. Sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sayuran, buah-buahan, maupun bahan alami lainnya dapat dimanfaatkan dan diolah kembali sehingga memiliki nilai guna. Dalam kegiatan tersebut, tim QAIYA HIJAU Tekno Nusantaran memberikan penjelasan sederhana mengenai proses pengolahan sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair. Peserta juga diajak untuk melihat secara langsung tahapan pengolahan, mulai dari pemilahan bahan, persiapan sampah organik, proses pencampuran bahan, hingga proses fermentasi yang menghasilkan pupuk organik cair. Mengenalkan Peduli Lingkungan Sejak Dini Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah sampah, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran dan kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini. Anak-anak dikenalkan bahwa sampah tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagian dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui metode praktik dan demonstrasi, peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan. Edukasi yang dikemas secara sederhana diharapkan dapat membantu anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Sampah Menjadi Manfaat Pengolahan sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair merupakan salah satu bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah agar dapat memberikan manfaat baru. POC yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman, sehingga sampah organik dapat kembali ke lingkungan dalam bentuk yang lebih bermanfaat. QAIYA HIJAU Tekno Nusantaran berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat terus dikembangkan dan dilaksanakan di berbagai lembaga pendidikan maupun masyarakat. Dengan edukasi yang dilakukan sejak dini, diharapkan tumbuh generasi yang lebih peduli, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. “Kenali Sampahnya, Pilah Sampahnya, Olah Sampahnya, Jadikan Manfaatnya.” QAIYA HIJAU Tekno NusantaranBersama Mengelola Sampah, Menjaga Lingkungan, Menciptakan Manfaat.

Scroll to Top